Pentas Chinese New Year BBS 2009 yang Kurang Sukses

Kali ini post saya akan saya ulas dengan hal yang berbeda.

Biasanya saya akan memposting post dengan suasana yang santai 😀
Tetapi post ini akan saya kemas dalam bentuk yang lebih formal
Yaitu dalam bentuk berita

Selamat Membaca

Kemeriahan suara tepuk tangan para penonton memenuhi gedung Jitec , Mangga Dua Square ketika acara Chinese New Year 2560 dimulai. Suara tepuk tangan penonton terkesan lebih meriah ketika MC Steven Tannason dan Chintya memberikan kata sambukan pembuka acara. Tetapi, kegembiraan penonton seakan sirna ketika pertunjukan pertama dipertontonkan kepada penonton. “Suara anak-anak tersebut memekakan telinga saya,” titah Alfin, salah seorang penonton acara tersebut. Penonton pun kecewa akan acara tersebut. Amelia pun menambahkan bahwa acara tersebut membosankan dan tidak jelas maksudnya.

Hasilnya, banyak penonton yang meninggalkan tempat perayaan tersebut sebelum acara tersebut selesai. Hal tersebut terbukti dengan derasnya arus penonton yang lalu lalang, keluar dari tempat duduknya dan pergi ke pintu keluar. Pak Sitorus pun memperkuat pernyataan tersebut. Dia melihat banyak sekali orang yang keluar dari tempat tersebut, dari yang hanya pergi ke kamar kecil, sampai yang turun ke Mangga Dua Square lewat eskalator. Jelas karena acara tersebut membosankan dan kurang berkualitas.

Seharusnya, acara tersebut direncanakan untuk dimulai pada jam 16:00 dan diakhiri pada jam 18:00. Tetapi, acara tersebut dimulai lebih lambat dan diakhiri pada jam 19:00. Tentu hal ini memberikan kontribusi pada pengurangan penonton yang lebih besar. Hal ini pun juga mencerminkan bahwa acara tersebut tidak terorganisasi dengan baik. Jika dilihat program acara di program booklet yang telah disediakan, terlihat bahwa beberapa pertunjukan yang diperankan oleh anak-anak primary terdapat di akhir dari acara tersebut. Jelas hal ini menyebabkan beberapa anak primary kehabisan kesabaran untuk menunggu. “Saya harus menunggu lama di belakang panggung untuk hanya untuk memerankan bagian saya,” kata Axel, seorang murid primary. Hal tersebut tidak mengherankan karena sulitnya guru-guru untuk berkomunikasi dan memberikan masukan kepada panitia acara, yang semuanya guru mandarin dari China.

Bukan hanya perencanaan acara tersebut yang masih terkesan kurang baik,tetapi acara tersebut sudah kehilangan tema kebudayaan Chinese nya. “Sebenarnya, acara tahun baru Chinese harus merepresentasikan kebudayaan China,” Pak Budi menjelaskan. Seharusnya acara tersebut memperbanyak pertunjukan yang merepresentasikan kebudayaan Chinese. Sebenarnya Pak Budi sudah senang karena sudah ada beberapa pertunjukan yang bertema China, seperti wushu. Tetapi dia menginginkan lebih banyak acara yang seperti itu. Guru fisika tersebut mengaku terkaget-kaget karena ada pertunjukan tari India dan modern dance. “Sebenarnya, apakah hubungan tari India dan modern dance dengan kebudayaan Chinese?” Pak Budi bertanya kebingungan.

Tidak hanya faktor internal acara yang menyebabkan acara yang dilaksanakan di Jitec tersebut kurang menarik, tetapi ada juga faktor eksternal acara yang kurang mendukung, seperti suara mikrofon yang kadang-kadang suka mati hidup dan terkadang volumenya teralu kecil untuk diperdengarkan kepada orang-orang yang jumlahnya mencapai kurang lebih 650 orang. Contohnya seperti ketika Pak Presno dan Pak Yuphi sedang menyanyikan sebuah lagu. Suara mereka terdengar kurang jelas. Juga, LCD proyektor yang sering mati hidup, menyebabkan penonton kehilangan bagian yang menarik dari acara tersebut. Meskipun penonton dapat melihat acara secara langsung, tetapi karena ukuran ruangan yang besar menyebabkan diperlukannya keberadaan proyektor yang meliput bagian-bagian terpenting dalam acara. Hal-hal tersebut menggambarkan kurangnya profesionalitas organizer acara tersebut mempersiapkan perangkat tambahan yang diperlukan untuk membuat acara tersebut berjalan dengan mulus.

“Acara tersebut sebenarnya dapat ditingkatkan lagi kualitasnya,” Pak Budi berkata, “Acara tersebut harus lebih ditingkatkan tema kebudayaan Chinese nya, karena tidak semua orang tahu kebudayaan Chinese, dan acara ini sebenarnya merupakan suatu media penyebaran kebudayaan Chinese”. Dia pun juga menambahkan bahwa acara tersebut harus mempunyai tujuan, harapan, dan sistem organisasi yang lebih baik supaya acara tersebut dapat ditingkatkan kembali kualitasnya. “Saya berharap tahun depan acara Chinese new year akan menjadi lebih baik,” harap Pak Budi. Bukan hanya Pak Budi saja yang melontarkan keinginan dan saran tersebut, murid-murid Bina Bangsa pun menginginkan hal tersebut supaya dapat direalisasikan pada acara-acara Chinese new year tahun depan. “Jika tahun lalu acara Chinese new year bisa menarik banyak kesan positif dari penonton, seharusnya tahun depan acara Chinese new year bisa lebih baik dari acara Chinese new year tahun ini,” Nathania memberi masukan.

“Meskipun acara tersebut banyak menuai menuai banyak reaksi negatif, tidak semua aspek dari acara tersebut bisa dikatakan negatif,” kesan Chris, “beberapa bagian dari acara tersebut memang sudah bisa dibilang bagus dan beberapa bagian tersebut dapat menarik kesan positif dari penonton, tetapi yang perlu dilakukan hanyalah memperbanyak acara-acara yang dapat menarik kesan positif dari penonton. Jika hal tersebut bisa dilakukan, maka penonton akan mengacungkan jempol mereka dan mereka akan memberikan kesan positif tehadap acara Chinese new year mendatang.

Wilson Chandra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: